Mengenal Nasi Samin, Kuliner Asimilasi Melayu Lokal dan Arab

Selama ini kuliner yang sangat terkenal dari Palembang adalah pempek. Tidak bisa dipungkiri, rasanya enak dan pembuatan yang cukup mudah membuat banyak orang menyukainya. Padahal jika berbicara kuliner di Palembang ada banyak sekali. Termasuk juga nasi samin atau yang juga lebih kondang disebut dengan nasi minyak.

Sebenarnya, kuliner ini tidak hanya terkenal di Palembang namun wilayah lainnya di Sumatera Selatan seperti halnya Jambi. Namun tentu saja ada bedanya. Di Jambi nasi samin ini biasanya dipadukan dengan kuah kari. Sementara di Palembang dimakan dengan lauk pauk

Hasil Asimilasi Melayu dan Arab

Sekilas, nasi minyak ini menyerupai nasi kebuli dan mungkin kamu bingung membedakan keduanya. Karena memang penampilannya yang sama dan bahan pembuatnya pun tidak jauh beda. Bedanya hanya terdapat pada kaldu daging kambing dan susu kambing saja, nasi samin tidak menggunakan bahan tersebut.

Penggunaan rempah dan juga bahan-bahan yang hampir mirip tersebut memang hasil asimilasi antara budaya Melayu lokal dan juga para pedagang Arab saat masa kerajaan Sriwijaya. Bagi kamu yang selama ini penggemar kuliner Arab, nasi samin ini bisa dicoba. Rasanya juga sama-sama memiliki rempah yang melimpah.

Penamaanya sendiri berasal dari salah satu bahan utama yang digunakan, yakni minyak samin. Tetapi karena nama “nasi minyak samin” dianggap terlalu panjang, akhirnya orang-orang menyebutnya sebagai “nasi minyak” atau “nasi samin” saja.

Dahulu Menjadi Hidangan Sultan Palembang

Nasi samin khas Palembang

Konon katanya, dahulu nasi samin hanya disuguhkan kepada Sultan Palembang saja beserta keluarga dan para tamunya. Dan biasanya disediakan setelah shalat Jumat saja. Karena Sultan Palembang memang biasa memakannya sehabis melaksanakan shalat Jumat. Atau disajikan di berbagai perayaan kasultanan.

Saking istimewanya, dahulu makanan ini tidak dijadikan makanan sehari-hari. Namun sekarang seiring berjalannya waktu, kuliner Palembang ini sudah mudah ditemukan di berbagai tempat. Dari penjual pinggir jalan sampai berada di gedung mewah. Jualnya juga hampir setiap hari, tidak pada hari Jumat saja.

Bahan Pembuat Penuh dengan Rempah

Nasi samin ini memiliki warna kuning kecoklatan karena penggunaan minyak samin dan juga rempah-rempah yang melimpah. Ada jintan, pala, adas manis, kapulaga, jahe, kayu manis,, cengkeh, dan kismis. Supaya makin nendang ditambah dengan bumbu lainnya seperti bawang bombay, susu tawar, air kaldu, serta tomat.

Jika tidak ada minyak samin, bisa juga menggantinya dengan mentega. Susu juga seringkali diganti dengan santan karena dianggap lebih masuk dengan lidah masyarakat Palembang.

Disantap dengan Berbagai Lauk Pendamping

Sebenarnya dimakan sendiri pun nasi minyak ini sudah nikmat. Perpaduan bahan-bahannya dengan rempah membuat rasanya jadi kaya akan rasa. Namun akan lebih nampol lagi jika dimakan dengan lauk pendamping. Sebut saja yang wajib ada adalah daging malbi, sambal nanas atau acar.

Daging malbi sendiri merupakan daging sapi yang diolah dengan rasa manis. Sementara untuk tampilannya, daging malbi ini malah mirip dengan semur. Bisa juga ditambah dengan menu pendamping lainnya seperti halnya kari ayam, ayam panggang, ayam goreng dan lain sebagainya. Bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.

Jadi Hidangan di Berbagai Perayaan Tertentu

Degan rasanya yang begitu istimewa, tidak mengherankan jika sampai sekaran nasi samin menjadi hidangan di berbagai perayaan tertentu. Mulai dari acara-acara saat bulan suci Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, hidangan pernikahan, atau sekadar menjamu tamu yang datang.

Dengan keistimewaan itulah, jika kamu sedang berkunjung ke Palembang jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipinya. Banyak juga tempat makan Palembang yang menyediakannya sebagai menu utama.

Sangat menggiurkan untuk dicoba, bukan? Jangan khawatir, di beberapa kota besar seperti halnya Jakarta atau Surabaya sudah ada nasi samin khas Palembang. Namun tentu saja, akan lebih berkesan jika menyantap langsung di kota asalnya. Maka dari itulah, selalu sempatkan waktu untuk mengeksplor Palembang jika ada kesempatan. 

Leave a Comment